Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2 Cerita Nakal sebelumnya yang telah diketahui atau kita baca bersama tentu saja yang berjudul Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 1 dan kali ini situs Cerita69 akan melanjutkan yang mantap dengan cerita sebelumnya yang pastinya bisa membangkitkan birahi seseorang yang berjudul Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2  ,.. ya uda yuk kita langsung aja mulai aja cerita nya.. hehehe penasaran? yuk let’s go..

Cerita Seks Melayani Tante Marisa Yang Hypersex 2

Dengan reflek aku membalikkan badanku, membelakanginya, berusaha menutupi celanaku yang memang ternyata semakin menonjol, Sialan, batinku memaki dalam hati, sambil aku menggaruk-garuk perlahan kepalaku yang tidak gatal.

“Ah Tante, ya iyalah Tan, berarti aku kan masih normal”, kataku menjawabnya sekenanya, ya mau gimana lagi, lah aku kan jengah juga, aku yang tadinya biasa-biasa saja, diperlihatkan sesuatu yang membuat gairah lelakiku bangkit, kemudian ternyata aku hanya dipermainkannya jelas aja langsung membuatku ngedrop, mungkin kalo cahaya ruangan terang benderang akan terlihat mukaku yang memerah menahan malu, walaupun tidak langsung membuat dedeku lemas kembali, namun yang jelas dedeku yang semula sangat tegang, kini dipaksa untuk santai.

Dalam posisi aku membelakanginya, dari gerakannya kubayangkan sepertinya Tante Marissa, membetulkan kembali pakaiannya, mengangkat tangannya, menutupi kembali dadanya, karena kurasakan lengannya menyentuh punggungku, saat menariknya dari atas kemudian menurunkan lengannya, meletakkannya dibawah disamping tubuhnya. Namun, kembali aku dikejutkan olehnya, tiba-tiba saja ia membalikkan badannya yang semula terlentang, membalik kekanan menghadap kearahku, dan tangan kirinya kini melewati badanku melewati pinggangku dan memelukku dengan kencang, serta tangannya kini mencoba untuk meraih celanaku di bagian depan !.

“Eleuh… normal nih yaa, masa sih ?, coba sini, tante pengen tau“ terkaget aku, dan yang jelas sulit bagi aku karena prosesnya begitu sangat cepat, untuk menghindarinya, aku harus memajukan badanku, namun sangat sulit bagiku, pada saat ini posisiku yang miring, membuat bahu dan lenganku tertindih oleh badanku, dan satu-satunya cara untuk menghindari sergapannya adalah aku harus berguling ke depan, namun jelas itu tidaklah mungkin karena didepanku, saat ini terdapat kursi yang menghalangiku untuk melakukan putaran badan.

Kalaupun itu terpaksa kulakukan maka resiko yang kuhadapi adalah badanku akan beradu dengan kursi itu, malah mungkin akan membuatku cedera, belum lagi mungkin akan membuat kursi tersebut terpental, hingga bukan tidak mungkin akan menimbulkan kegaduhan yang akan membuat seisi rumah terbangun !.

Celaka, kini bukan itu lagi yang aku pikirkan, telapak tangan Tante Marissa tepat bersarang di celanaku bagian dalam, merengkuhnya seperti layaknya tangan macan yang mencengkeram mangsanya, ada rasa sedikit sakit, yang kualami, sepertinya dedeku dicengkeram dan ditarik dengan ganas, aku memegang atas lengannya dengan tangan kiriku, berusaha menarik tangannya agar terlepas dari dedeku, dan mungkin karena sedikit bercampur kaget, dan aku menyadari kalau aku teriak mungkin malah akan membangunkan seisi rumah, hingga aku hanya bisa terpekik perlahan, dan dengan suara tertahan disertai rengekan kecil aku hanya bisa bilang

“Aduh, Jangan Tante… Jangan…” aku mencoba untuk mencegahnya.

Namun akibatnya malah fatal, tangan kiriku yang menyentak, menarik tangan tante Marissa, malah membuat dedeku semakin tertarik dan membuatku merasa semakin sakit, bagaimana tidak cengkeraman Tante Marissa tidak hanya mencengkeram batang kemaluanku namun hingga kebuah zakarnya, auccchhh !. perutku serasa sakit, membuatnya serasa terpelintir, aku menjadi lemas, hingga sepertinya tak ada tenaga lagi buatku untuk melakukan perlawanan. Yang ada kini tangan kananku hanya memegang tangan kirinya.

BACA JUGA : Cerita Seks Dewasa Pemerkosaan Mahasiswi Seksi Yang Sombong

“Hayoh, coba tarik lagi, orang Tante cuman pengen tau doang kok !” katanya lagi, sepertinya beliau tahu bahwa aku akan merasakan sakit bila aku coba-coba meronta lagi,

“hehehe.. lumayan juga punya kamu Fan, lumayanlah buat ukuran orang indonesia”, katanya lagi, duh, ni Tante, orang lagi kesakitan begini, sempet-sempetnya lagi ngukur punya aku, lagian punyaku kan udah setengah lemes, ya ciutlah, lagian juga kalo lagi tegang, gak panjang-panjang amat, palingan juga sekitar 12-13 cm, gak kaya punya suaminya, yang mungkin gedenya segede apaan tau, ya namanya juga orang bule.

“Aduh.. sakit Tan… ampe lemes nih, tante sih.. maen cengkram aja” kataku setengah menggerutu, sambil menarik napas dalam-dalam dan menghelanya dengan hentakan, layaknya orang habis berolah raga dan ingin memulihkan staminanya kembali.

Aku melepaskan tanganku yang memegang telapak tangannya, terserah deh mo diapain juga, asal jangan diremas kayak tadi lagi deh, kayaknya badanku lemas sekali, seperti kehilangan tenaga sama sekali.

“Sakit ya… duh keciiian, sakit banget gak ?”, masa bodoh ah, dia mo ngapain kek, yang jelas, dengan badanku yang lemas seperti ini, mataku malah terpejam, dan aku tak memberikan jawaban maupun reaksi atas pertanyaannya.

Dan mungkin dia merasakan, bahwa aku sepertinya tak memberikan reaksi apapun, reaksi balasan ataupun perlawanan terhadapnya. Dan tanpa aku duga, tangannya yang mencengkeram dedeku, dilepaskannya dan kemudian ia membelainya dengan telapak tangannya, pada bagian jari bawah jari tangannya, mengelus dedeku perlahan.

Entah apa yang ada dipikiranku, mataku yang terpejam, sedikit terbuka, kulihat ke arah celanaku, tangan yang putih, halus itu sepertinya bergerak-gerak perlahan mengelus batang kemaluanku, dari luar celanaku. Dan sepertinya dekapan Tante Marissa kurasakan semakin erat, benda bulat dan kenyal, sepertinya semakin menempel ketat pada punggungku, kurasakan sepertinya putingnya semakin keras, mengganjal seperti ada kerikil yang mengganjal. Dan aku sepertinya tidak dapat melakukan apapun, seolah pasrah dengan apa yang terjadi.

Hingga, beberapa saat kemudian tangan beliau ditarik keatas celana pendekku hingga keatas pinggang, menarik keatas sedikit bagian bawah kaosku, mengusap perutku perlahan, membuatku tergelitik, namun sepertinya ini membuatku semakin nyaman, kemudian ia mengangkat karet pinggang celana pendek untuk memberi celah, kemudian ia menyelusupkan tangannya kedalam celana dalamku, perlahan. Pelukannya semakin erat, membuat badanku yang tadinya dingin serasa semakin hangat, dan aku hanya bisa terdiam, menunggu apa yang akan diperbuat Tante Marissa terhadapku,menunggu keisengan apa lagi yang akan dilakukannya.

Perlahan bulu-bulu halus yang berada di atas kemaluanku dirabanya, menyentuh kepala penisku, kemudian, seolah mengukurnya, jari-jarinya membuat kuncup yang mengelilingi bagian kepala yang menyerupai helm itu, diam sesaat, dan selanjutnya meraba bagian batang penisku dengan telapak tangannya, menyentuh batas bawah kemaluanku, seakan beliau ingin mengukur panjang penisku, dan kemudian beliau mengelusnya, meraba permukaan bagian bawah batang penisku, yang sepertinya juga pasrah dengan posisi telentang dengan kepala menengadah ke atas, seakan meminta persetujuanku bahwa saat ini dia sedang dipermainkan oleh tangan perempuan.

“Masih sakit gak Fan ?” terdengar suara Tante Marissa, ditelingaku, setengah berbisik, mungkin dengan mataku yang terpejam, dikiranya aku masih merasakan sakit, atau mungkin ia menyangka bahwa aku setengah tertidur, dan ia tidak bermaksud membangunkanku.

Entah aku harus menjawabnya apa, namun rasa nikmat yang kurasakan sepertinya tak ingin segera kuakhiri, ingin rasanya aku melanjutkan ke tingkat level yang lebih tinggi, namun aku tak ingin kejadiannya seperti barusan, ternyata beliau memang hanya ingin mengerjaiku saja, lah jelas aja aku gak mau dikerjain 2 kali, dengan wanita yang jelas lebih berpengalaman denganku dalam hal beginian.

Aku tak menjawabnya, hanya bergumam sedikit, heehhhhhh, seolah aku masih merasa sakit.
Dan tanpa kuduga, ia memegang sebelah kiri paha bagian dalamku, menariknya perlahan seakan ingin membuat pahaku bergeser, mencoba untuk membuka celah diantara kedua pahaku semakin melebar, ya tentu saja dalam posisiku yang miring ke kanan membelakanginya, apabila aku akan melebarkan celah diantara kedua paha kiriku otomatis aku harus mengangkatnya keatas, dan jelas mau tak mau akan membuat badanku yang semula miring, menjadi terlentang, karena aku harus memutar badanku.

Sepertinya Tante Marissa sudah mengetahui hal ini, bdannya sepertinya bergeser mundur sedikit namun, tetap posisinya miring menghadapku. Kini aku kembali terlentang dengan posisi Tante Marissa berada disebelah kiriku, bahuku sepertinya menyentuh kulit dari benda bulat, halus dan kenyal, dan tanpa dikomando mataku melirik kearah samping, ya ampun, kupikir ia telah menutup kembali dadanya, ternyata dada putih, bulat, besar dan ranum itu masih terbuka dengan seperti menantang untuk dijamah.

Dan sepertinya Tante Marissa tahu kalo aku melirik kearah dadanya, dan kemudian tangannya yang mememegang dedeku ditariknya, dilepaskannya, kemudian ia mendekatkan bibirnya ketelingaku dan berkata setengah berbisik,

“Kamu suka sama dada Tante Fan ?, kalo kamu suka dan mau pegang, pegang aja, ga papa kok, boleh ” dan kemudian ia menarik badannya, membuatnya menjadi terlentang.

Terkaget aku dan sepertinya otakku sudah gelap, tak ada pikiran apapun, seakan menjadi kosong, melupakan apa yang tadi terjadi, ditambah lagi dedeku semakin tegang akibat dari perlakuannya tadi. Aku menengok kearahnya, seakan meyakinkan bahwa yang aku dengar barusan adalah benar, benar keluar dari mulut tante marissa, dari mulut yang dilingkupi bibir seksi ini, namun aku sepertinya tak ingin menunggu jawaban darinya, segera aku mencoba meraih payudara montok itu.

Aku mengangkat tangan kiriku, namun bila menggunakan tangan kiriku, aku hanya bisa menyentuhnya dengan punggung tanganku ini, tak mungkin aku memegang atau meraba dengan telapak tanganku, ini akan membuat tanganku terpelintir, jadi aku hanya bisa merasakan buah dada yang putih, kenyal dan montok itu hanya dengan menyentuhnya saja dengan punggung tangan kiriku.

Hmm.. mencoba aku menyentuhnya, merasakan kulit halus dari dada putih tersebut, mengusap-usapnya dengan perlahan, menyentuh putingnya dengan punggung jari-jariku, lalu aku mencoba menjepit putingnya, menariknya perlahan, dan Tante Marissa sepertinya menikmati sentuhan punggung tanganku, kulihat matanya seperti terpejam. Dan rupanya rasa ingin lebih kembali menerpaku, aku segera berbalik badan, dengan menggeser sedikit badanku, agar ada jarak buatku untuk berbalik badan, memiringkannya kearahnya, bermaksud untuk mengganti tugas tangan kiriku dengan tangan kananku !.

Kini di hadapanku, tepat di depan mataku, teronggok bukit indah, munjung, dengan kulit halus dan lembut, dalam cahaya remang seolah tidak memudarkan warna putih yang melingkupinya, pada puncak bukit tersebut, terdapat lingkaran kecil, berwarna coklat kehitaman, dengan putingnya yang kelihatan sudah tegak, mengeras.

Tak tahan aku untuk berlama-lama hanya dengan memandanginya, kurengkuh bukit itu dengan tangan kananku, perlahan, menyentuh permukaannya, mengelusnya, merasakan permukaan halus nan lembut itu, mengitari lingkaran berwarna dengan ujung jariku, dengan sesekali menyentuh putingnya, dan menekannya, membuat remasan-remasan kecil, membuat tante Marissa melenguh pelan, menikmati sensasi yang keberikan.

Napas tante Marissa kelihatannya sudah tak teratur, tarikan napas panjang, dengan hembusan napas yang rada menghentak, seakan menandakan bahwa beliau benar-benar menikmati perlakuan yang aku terima. Seingatku baru kali ini aku melakukan hal ini pada wanita yang benar-benar dalam keadaan sadar, yang benar-benar menikmati apa yang kulakukan terhadapnya.

Teringat aku akan apa yang aku pernah lakukan terhadap Tante Mala, Moza, Mita, Maya, dan tante Sandra, mereka semuanya biasanya “kukerjai” saat mereka hilang akan kesadaran, entah tertidur pulas, atau dalam keadaan mabuk, mungkin inilah yang disebut dengan istilah “Bidirectional” Hehe…

Beberapa saat aku melakukan hal tersebut, dari mulai, menyentuh, meraba, menekan, meremas dengan halus, memilin-milin ujung putingnya, hingga, meremasnya dengan gemas. Kutatap wajah tante Marissa, kulihat matanya, dan bola mata kami seakan beradu pandang, kulihat mata yang bening dan indah itu, seperti nanar, tanpa ekspresi, seolah pasrah, seolah berkata, bahwa ia sangat suka aku perlakukan seperti itu, dan terserah kamu mau apa, silahkan kamu nikmati apa yang aku berikan.

Dan sepertinya aku mengerti apa yang ia inginkan, aku menggeser badanku kebawah menurunkan kepalaku agar sejajar dengan dadanya, dengan bertumpu pada lengan kiriku, aku menyorongkan wajahku agar lebih dekat dengan payudaranya, tercium bau harum khas wanita yang membuat gairah lelakiku semakin menggelora.

Tante Marissa seakan mengerti apa yang hendak kulakukan, tangannya bergerak kearah payudara sebelah kanannya, merengkuhnya, dan membuat remasan, hingga bukit indah yang membusung itu terlihat semakin membusung, dengan putingnya yang semakin menantang, menyodorkannya kepadaku untuk segera aku nikmati.

Kontan aku menjulurkan lidahku, bagaikan ingin segera mencicipi makanan lezat dihadapanku, kusentuh puting keras dan menjulang itu dengan ujung lidahku, mengecapnya seolah ingin merasakan apa yang terkandung padanya.

Kumainkan ujung lidahku, membuat putaran-putaran kecil pada ujung payudara itu, bagian permukaan lidah yang kasar seakan memberikan sensasi yang dahsyat pada Tante Marissa, napasnya semakin tak teratur, kulihat pada sorot matanya, seakan menyuruh aku agar jangan menghentikan aksiku, hal tersebut membuat gairahnya semakin tak menentu, melenguh panjang dan perlahan, buah dadanya semakin disorongkan kearahku, meremas dengan tangannya sendiri dengan remasan yang kasar dan itu membuat buah dada yang besar, bulat, semakin membusung, dan mengeras.

Tangan kananku yang bebas kini juga mulai melakukan aksinya, menyerang buah dada sebelah kirinya, tanpa didahului dengan serangan halus, namun langsung dengan gencar melakukan serangan dahsyat, merengkuh, meremas-remas dengan kasar. “Oughhh “ setengah terkejut mungkin dirasakan oleh Tante Marissa saat mendapat serangan lanjutan, pekikan tertahan disertai dengusan napas menghela, menyertai serangan yang kulancarkan.

Suhu udara yang dingin menjadi tak terasa, bagian dada Tante Marissa seakan menjadi basah oleh keringat dan air liurku, serangan yang kulancarkan semakin gencar. Tanpa aku sadari tangan Tante Marissa, yang semula berada didepanku ditariknya dan meletakkannya dibelakang kepalaku seakan menyuruh aku untuk tidak menghentikan serangan sama sekali, dan semakin membenamkan kepalaku pada dua gunung kembar itu. Aku menerkam puting yang sedikit menjulang masuk kedalam mulutku, memainkan lidahku saat ia berada didalam, mengulumnya, menghisap-hisapnya layaknya permen, seakan aku ingin menelannya. Beberapa saat telah berlalu, hingga…

Tangan tante Marissa tiba-tiba menarik kepalaku, membuatku kepalaku terangkat, terkaget aku, segera aksiku kehentikan, kupandangi wajah Tante Marissa, memandangnya seolah bertanya, apa yang terjadi ?. kukira ada sesuatu yang membuat aksiku dihentikan olehnya, jangan-jangan Tante Mala atau Moza terbangun dan keluar kamar, kemudian melihat aksi kami berdua, duh.. mati aku !. dari posisiku ini jelas aku tak akan tahu, apa yang terjadi, saat aku tertelungkup, menikmati buah dada sang Tante, berarti posisi kamar Tante Mala dan kamarku yang ditempati Moza berada dibelakangku, jadi aku tidak akan tahu bila pintu kamar salah satu dari mereka tiba-tiba terbuka dan memergoki apa yang aku lakukan !,

“Fan.. fan.. sudah fan…” begitu tiba-tiba keluar kata-kata dari mulut Tante Marissa, kontan aku menyudahi seranganku, berbalik badanku seakan mencari tahu apa yang terjadi, dalam rasa terkejutku, posisiku yang semula bertelungkup, tengkurap, kini terlentang, bersiaga menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Memandang pintu di samping kananku, menatapnya, dan ternyata kedua pintu itu masih tertutup rapat

“Duh sialan, lagi seru-serunya malah disuruh berhenti, kena lagi aku dikerjain !” gerutuku dalam hati, kuangkat kepalaku, kuarahkan kewajahnya, kuingin bertanya padanya, apa yang terjadi ?, apakah aku dikerjain lagi ?

Belum keluar kata-kata dari mulutku, tiba-tiba saja beliau bangkit dari posisi rebahnya, mengambil posisi duduk, kemudian beliau mengangkat badannya, menggeser pantatnya kearah bagian bawah tubuhku, berbalik memutar badan, hingga wajahnya menghadap kearahku, duduk seperti bersimpuh, mengangkat wajahnya, tersenyum kepadaku. Kemudian tanpa kuduga, beliau menaruh kedua tangannya dikedua pinggangku, kiri kanan. Belum hilang rasa terkejutku, tiba-tiba saja dengan cepat, beliau menarik celana pendekku berikut celana dalamnya, hingga kebatas dengkul !

Terkejut aku dengan apa yang dilakukannya, tak ada gerakan bertahan yang dapat aku lakukan, aku malah seolah membiarkannya terjadi, dan malah aku menjadi pasrah, ketika tangan beliau menarik kembali celana pendekku, aku malah mengangkat kaki kiriku, agar lubang celana pendekku berhasil melewati ujungnya.

Selanjutnya, aku lihat tante Marissa, menggeser kaki kiriku agar menjauh dari kaki kananku, membuat celah antara kedua kakiku semakin melebar, dan tiba-tiba saja beliau mengangkangiku, kulihat beliau seperti merangkak, menggeser dengkul kakinya, melewati kaki kiriku, dan kini beliau sudah berada ditengah-tengah diantara kedua kakiku.

Dan entah apa yang harus kulakukan, beliau menatapku sejenak, sepertinya tersenyum melihatku, berkata kepadaku,

“Sssttt….kamu diam aja Fan, ini Tante kasih sesuatu yang belum pernah kamu alami !”, aku hanya dapat memandangnya dengan pandangan yang sulit aku jelaskan.

Dan tiba-tiba saja beliau memegang batang penisku dengan tangan kirinya, batang penisku yang memang sudah menegang sejak tadi, dengan tegangan yang selalu naik turun seperti PLN, begitu dicengkeramnya, aliran darah yang melewatinya sepertinya semakin berdenyut kencang dan itu membuatnya semakin menegang.

Tante Marissa mulai mengurutnya perlahan, memaju-mundurkannya keatas kebawah, pelan seakan merabanya, ada sedikit rasa perih ketika kulit halus telapak tangannya menyentuh kulit penisku, terutama saat beliau memainkan dengan cepat, hingga ujung lubang penisku seperti berdecak-decak. Dan kemudian ia menurunkan kepalanya, dan tanpa kuduga, ia mencium kepala penisku, mencium dengan bibirnya yang mungil, sensual dan indah itu. Menjulurkan lidahnya, seperti ketika aku merasai putingnya, dan hap, tiba-tiba saja penisku sepertinya sudah tertelan masuk kedalam mulutnya.

Aku sepertinya menikmati sensasi yang benar-benar luar biasa, sukar untuk kulukiskan betapa nikmat apa yang kurasakan saat ini, kulihat kearah bawahku, tampak batang penisku seperti bersinar akibat air liur Tante Marissa yang membasahi seluruh permukaannya, sepertinya ia bekerja keras menaik turunkan kepalanya, mengulum ujung batang kemaluanku, menyedotnya, kemudian melepaskannya, sesekali beliau tampak memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seakan-akan ingin memelintir batang kemaluanku, mungkin juga dimaksudkan agar jangan sampai ada bagian yang terlewati.

Mata beliau melirik, melihat kearahku dengan alis mata yang lentik itu, seolah mengatakan bahwa apakah aku menikmati apa yang dilakukannya, inilah sensasi yang belum pernah engkau alami selama ini wahai fandi. Aku hanya terkesima melihatnya melakukan serangan balik terhadapku, aku hanya mampu menutupi wajahku dengan lenganku, hanya mampu melenguh panjang, manakala lidahnya yang nakal memainkan batang penisku tepat dibawah kepala helm penisku, membuatku menggelinjang menahan rasa nikmat yang amat sangat.

Rasanya aku ingin meraih payudara yang montok itu, yang menggelayut sempurna, layaknya ombak yang menghempas kapal karam kesana-kemari, namun tanganku tak mampu menjangkau payudara indah tersebut, aku hanya mampu menarik napas dalam-dalam, menahannya sesaat, kemudian melepasnya perlahan melalui mulutku disertai lenguhan panjang. Dan kemudian tanpa saat kenikmatan tiada tara tersebut tengah aku nikmati, ia melepaskan kuluman penisku dimulutnya.

Kemudian ia memajukan badannya menyorongkan dadanya sedikit kedepan, membawa buah dada yang rasanya sejak tadi ingin aku rengkuh dan rasakan, dengan kedua tangan yang memegang kedua buah dadanya tersebut, berusaha menjepit penisku !

Mungkin karena licin, dan penisku yang memang lebih miring kearahku, sehingga sepertinya penisku mencelat keluar dari himpitan kedua payudaranya, dan mungkin juga karena aku menyadari apa yang hendak dilakukannya, sehingga aku membantunya dengan mendorong sedikit penisku kearah dalam, hingga payudara putih, kenyal dan besar itu mampu menjepitnya.

Mungkin selama ini, inilah hal yang paling sangat aku ingin rasakan, tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahwa aku mengalami hal seperti ini, adegan yang mungkin selama ini hanya aku saksikan di dalam filem-filem porno, yang kerap aku tonton dirumah teman-temanku yang orang tuanya tergolong kaya dan mapan, ya gw mah dulu mana punya video player ?, (boro-boro video player, celana dalem aja ngepas ada 6 biji, warnanya sama semua, biar disangka gw punya 10 lusin dan maniak ama warna tertentu, loh kok ada 6, kan hari ada 7 ?, ya iyalah masa tuh CD gw mo nomorin pake nama hari ntar disangka punya 7 doang, hehehe.. ), yang tentu saja kami pinjam secara diam-diam dan ditonton dengan diam-diam pula, ya iyalah masa mo berisik dan teriak-teriak, kalo itu mah nonton bola, bukan nonton bokep, lah elo baca cerita ini aja diem-diem gak berisik, iya kan ?

“Ouggghhhh “ lagi-lagi aku hanya mampu mengeluarkan suara lenguhan agak parau, manakala pabrik susu yang besar itu mulai mengurut penisku, naik turun, menjepit penisku dengan kedua payudaranya, terlihat nampak seperti bergonjang-ganjing, naik turun, mendekap erat penisku pada belahan payudara tersebut, seakan tak membiarkannya terlepas dari jepitannya. Sesekali beliau menjulurkan lidahnya, menjilat kepala kemaluanku, dan kemudian mengulumnya, memasukkannya kedalam mulutnya.

Terus dan terus dilakukannya berulang-ulang, beberapa saat berlalu, kasihan juga aku melihat Tante Marissa, peluh sepertinya mengucur deras dari dahinya, membasahi punggungnya, menetes hingga kedadanya, udara malam yang dingin ini seakan tak membuat kami merasakannya, aku yang masih menggunakan kaos, mungkin masih merasakan dingin, namun kulihat Tante Marissa yang dadanya terbuka serasa berada di dalam ruangan yang panas.

Dedeku semakin tegang dan tegang, serasa aliran darahku terpompa kencang, aku hanya pasrah, melihat Tante Marissa memperlakukanku seperti boneka kesayangannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku untuk mencegah atau melarang tindakannya. Beberapa saat berlalu, dan sepertinya prosesi mengurut batang penisku seakan tak berujung, hingga tiba-tiba saja beliau menghentikan segala aksinya, dilepaskannya himpitan pada penisku oleh payudaranya dengan melepas tangan yang mencengkeram kedua buah dadanya, dan kemudian beliau yang saat itu berada pada posisi duduk membungkuk, kemudian menegakkan badannya, sepertinya ia akan menyudahi semuanya !.

Tersenyum ia kepadaku,

“Gimana Fan udah gak sakit lagi kan ?, udah enakan kan ?” katanya lagi tatkala ia melepaskan jepitan payudaranya pada dedeku, membiarkan dedeku menegang sendiri, mengacung seolah memprotes kenapa ia menghentikan aksinya.

Aku hanya bisa memperhatikan tubuhnya yang kini telah berada dalam posisi duduk tegak, memandang wajahnya, dan tanpa aku sadari keluar kata-kata dari mulutku,

“Tan lagi dong Tan, … masa cuma gitu doang !” entah apa maksudku, tapi nada dari kata-kata yang aku keluarkan itu terdengar seperti memelas atau lebih tepatnya seperti rengekan anak manja yang sedang meminta sesuatu.

“hihihihi…. Kan tante cuma ngilangin rasa sakit kamu doang, katanya tadi kamu sakit… hehehe, enak kan pijitan Tante ?” sahut Tante Marissa, sambil tertawa cekikikan, dan yang lebih menyebalkan lagi, ia mengatakan itu sambil mengedip-ngedipkan matanya,

“Jah, kena lagi aku dibikin nanggung, kuya !…. “. Rupanya ia tahu bahwa aku kesal karena dipermainkannya, dan sambil tergelak beliau menjatuhkan badannya kebelakang, dengan bertumpu pada kedua tangannya yang menahan beban tubuhnya agar tak terjatuh sekaligus, dan serta merta merebahkannya.

“huh, lemes lagi deh dedeku “ aku menggerutu sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakang telingaku, dan kulihat kearah bawah dari posisi kepalaku yang rebah, tante Marissa sepertinya kegirangan karena berhasil mengerjaiku lagi.

Namun, nampaknya ulahnya tidak sampai disitu saja, mungkin karena ia melihatku seperti kucing yang kelaparan yang sedang menunggu tuannya menyantap makanan, menunggu sang tuan berbelas kasihan melemparkannya sedikit ikan, dan sepertinya ia ingin menggodaku lebih jauh…

Mungkin beberapa saat setelah tawa cekikikannya reda, tanpa menunggu reaksiku yang sepertinya ngambek terhadapnya, tiba-tiba saja beliau bangkit dari rebahannya. Kupikir ia bangun dan hendak pergi meninggalkanku, kembali kekamarnya, namun yang kusaksikan ini malah kembali membuat hatiku berdebar-debar. Dalam posisinya yang berlutut, setengah berdiri, beliau kini malah menanggalkan pakaiannya !

“Mau ngapain lagi nih Tante ?, bodo ah, paling dia iseng mo ngerjain aku lagi” begitu yang ada dalam pikiranku, aku hanya terdiam, hanya melongo, terpana, melihat kearahnya, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Entah apa yang berada dipikiranku, namun saat ini didepanku kulihat Tante Marissa kini bertelanjang dada, dengan hanya menggunakan celana dalamnya saja.

Dan kemudian beliau kembali merebahkan dirinya, memegang payudaranya, mengelus-elusnya dan melihat kearahku, tersenyum, seolah-olah mengatakan padaku,

“hayoo sini fan, maju kalo berani !”

Mungkin karena aku takut dipermainkannya lagi atau mungkin aku bingung, tak tahu apa yang aku harus lakukan, hingga pada situasi ini, aku hanya terpaku saja melihatnya, melihat semua tingkah dan gaya Tante Marissa, layaknya sedang menyaksikan blue film ketika seorang wanita sedang melakukan pemanasan seorang diri. Kulihat beliau seperti tadi. memainkan payudaranya, mengelus-elusnya dan meremas-remas dengan tangannya sendiri,

Dan sepertinya beliau seolah-olah mengejekku, dengan menjulurkan lidahnya, mengangkat payudaranya dengan tangannya, dan menjilat putingnya. Dan tak lama kemudian tangan kanannya mulai memasuki celana dalamnya, memainkan tangannya didalam sana, seolah-olah mencari-cari sesuatu, bergerak-gerak dengan liar, menelusuri bagian vaginanya.

Aku hanya mampu menatapnya, berusaha agar tak tergoda, namun mengharapkan agar ia yang menarik diriku dan memperlakukannya seperti tadi. Sepertinya aku masih ragu untuk melakukan gerakan apapun, mungkin saat ini lebih tepatnya aku berlaku layaknya predator, menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsanya, bila salah-salah sedikit bukan mustahil sang mangsa akan kabur melarikan diri, atau mungkin ada sesuatu yang bisa mengakibatkan diriku terperangkap !.

Dan kulihat saat ini tante Marissa, seakan masih terus menggodaku, menatapku yang seakan tidak tertarik dengan tubuh mangsanya, seakan rasa lapar belum menyerangku, sehingga aku tidak tertarik sedikitpun dengannya, namun tatapan mataku seakan tak bergeming, seolah tak mau beranjak dari tubuhnya, masih terus menatap dan memperhatikannya.

Hingga beberapa lama kemudian, kulihat ia menurunkan tangan kiri yang memegang payudaranya, menaruhnya pada pinggang dimana celana dalamnya melekat, dan selanjutnya tanpa kuduga, beliau menurunkannya, memerosotkan celana dalamnya hingga kebatas dengkul, melewati kedua paha putih dan mulus itu, membantu dengan kakinya agar celana dalam itu terdorong keluar !.
Dan kali ini tubuhnya kulihat polos tanpa sehelai benangpun !!!.

Kulihat ia tersenyum padaku manakala kulihat dengan pandanganku yang seperti terpaku, terkejut dengan apa yang dilakukannya. Hanya tersenyum sekilas sambil memandang diriku dan selanjutnya, ia kembali memainkan tangannya diantara belahan selangkangannya, memainkan jari jemarinya yang lentik, terus dan terus hingga kudengar napasnya semakin tidak teratur, lenguhan kecil sepertinya terdengar jelas dimalam yang dingin dan senyap seperti ini. Dan tanpa kusadari tanganku kini telah berada pada batang dedeku, yang sepertinya mengikuti irama jari gerakan tangan tante Marissa !.

Beberapa saat berlalu, aku seakan ikut menikmati live show didepanku, malah seolah-olah aku turut serta dalam aktifitas tersebut, hingga tiba-tiba saja Tante Marissa menghentikan aktifitasnya, bangkit dari posisinya semula, bangun, dan kemudian berjalan merangkak mendekatiku.

Ia menghampiriku, melangkahkan kakinya kesamping kananku, kedua kakiku yang masih mengangkang, terbuka lebar, dengan posisi dedeku yang masih berdiri tegak, mengacung !.

Kupikir ia akan memainkan dedeku seperti tadi, memainkan dengan tangannya, dengan mulutnya dan dengan payudaranya, menyelesaikan apa yang telah ia mulai tadi. Namun ternyata ia malah merebahkan dirinya disampingku.

Aku hanya meliriknya sekilas, seakan aku masih ngambek dengannya, cuek setelah apa yang dilakukannya padaku tadi. Dan mungkin sepertinya ia tahu apa yang terjadi pada diriku, ia yang semula merebahkan diri disampingku, kini membalikkan badannya dan kini badannya yang telanjang bulat menghadap diriku.

“Fan… mau lagi gak?” terdengar kata-kata tante Marissa ditelingaku, walaupun sepertinya beliau mengatakan dengan pelan namun aku jelas sekali mendengarnya, karena saat beliau mengatakan hal tersebut terdengar hembusan napas yang mengiringi kata-kata tersebut, mungkin kupingku dan mulutnya hanya berjarak beberapa centimeter saja. aku tak menjawabnya, mataku tak kupalingkan sedikitpun dari televisi didepanku.

“Faaaaan….” Tiba-tiba saja terdengar pekikan Tante Marissa, walaupun mungkin tak seberapa keras, namun karuan saja itu mengagetkanku, dan tiba-tiba saja beliau menarik badanku, hingga aku yang tadinya terlentang, kini badanku berbalik, menghadap kepada dirinya !

Kini wajah kami saling berhadap-hadapan, dan kini hanya beberapa sentimeter saja didepanku, kulihat wajah tante marissa, bertatapan langsung dengan wajahku. Sekilas tatapan mata kami saling beradu pandang, Kulihat sorot mata tante Marissa, lain dari biasanya, dengan sorot mata yang sayu, seolah menyiratkan suatu keinginan yang telah lama terpendam.

Beliau memandangku, menatapku mataku lekat-lekat, dan kemudian beliau berkata kepadaku

“Fan, kamu mau gak tante kasih yang lebih dari tadi ?, tapi janji ya kamu jangan cerita ke siapa-siapa ?, pokoknya tante ajarin kamu sesuatu, kamu mau ?” aku tak menjawabnya, bingung harus menjawab apa, gugup aku dengannya, wanita cantik, putih dengan wajah yang mulus, kini berada dihadapanku, hanya beberapa centimeter saja dariku, tercium harum napas keluar dari mulutnya.

“Em…mang… appa ….” Belum selesai perkataanku, dan tanpa kusadari, tanpa menunggu jawabanku, tiba-tiba saja tangan tante Marissa telah meraih batang kemaluanku.

Memang dalam jarak sedemikian dekat, tangan Tante Marissa tak perlu mengulur panjang, dengan posisinya tadi yang berada dibawah pinggangnya, mungkin hanya dengan satu gerakan saja, beliau sudah menangkap dedeku, kemudian dengan serta merta mengelus-elusnya, mengocoknya perlahan, membuat dedeku yang telah tegang kini semakin menegang.

Blingsatan aku jadinya, aku yang semula tenang kini mulai gerah kembali, tanganku kini mulai berani bermain, kupeluk dirinya, kumainkan dadanya dengan tanganku, sementara tangannya tak lepas dengan terus memainkan batang penisku. Dan rasanya hasrat birahiku kini telah benar-benar menggelora, hingga, seperti ada yang menyuruh aku untuk mencium dan melumat bibirnya yang hanya berjarak beberapa centimeter itu, saat aku memajukan wajahku dan hendak menarik kepalanya dengan tanganku, dan saat itu pula, tiba-tiba ia melepaskan tangannya dari dedeku dan menaruhnya dibibirnya untuk mencegahku melakukan hal itu…

“Sssttt… jangan fan, gak boleh, gak boleh cium bibir Tante, kalo kamu mau cium, cium yang lain aja !” dan dengan setengah berbisik ia mengatakan itu untuk melarang aku melakukannya, dan sepertinya agar aku tak kecewa, atau agar suasana yang baru saja dimulai ini selesai begitu saja, tiba-tiba saja ia memelukku dan merapatkan dadanya yang indah, besar dan kenyal itu ke dadaku, dan kemudian ia mengangkat kepalanya, melewati pundakku, dan menciumi leher belakang kepalaku serta menjilati belakang kupingku.

Geli dan nikmat aku rasakan, dan manakala itu terjadi dadanya otomatis berada didepan mulutku, yang langsung aku sambar untuk aku cium dan jilati pula, dengan ditingkahi oleh hisapan-hisapan ringan pada putingnya.

Lama kami melakukan itu, saling cium dan jilat, membuat dedeku semakin tegang dan sepertinya menyodok-nyodok bagian bawah tante Marissa, seakan-akan mencari celah diantara kedua belahan pahanya, dan itu mungkin dirasakan oleh Tante Marissa, karena tiba-tiba saja iya menurunkan tangannya dan meraih penisku. Dipegangnya erat batang penisku, dikocoknya perlahan seakan hanya mengelus-elusnya saja, menambah napsuku yang sudah dipuncak menjadi semakin memuncak.

Tante Marissa tanpa kuduga tiba-tiba saja menghentikan pelukan dan ciumannya pada diriku dan tanpa kuduga, beliau merapatkan badannya pada diriku, menurunkan tangan yang satunya kebawah, dan kini kedua tangannya sepertinya berebut untuk memegang penisku !.

Dan tak lama kemudian, tante Marissa seakan mengarahkan penisku ke dataran tinggi dibawah perutnya, dataran yang sedikit memunjung, membentuk cangkupan menyerupai gundukan, dengan ditumbuhi hutan yang tidak seberapa lebat, seakan menuntun sang penis agar mendarat pada tempat yang tepat. kemudian beliau dengan menggunakan tangannya menarik dedeku, menggosok-gosokkan ujung kemaluanku pada bibir kemaluannya, dan kurasakan sepertinya pada bagian dalam bibir kemaluannya kini telah basah !.
Sulit sekali sepertinya pada posisi kami berbaring seperti ini, saling memiringkan tubuh dan berhadap-hadapan, sepertinya bibir kemaluannya tertutup rapat, sulit bagi kepala kemaluanku untuk menerobos masuk, hingga…..

Seolah mengerti akan keinginanku, Tante Marissa mengangkat kaki kanannya, seakan memberi peluang bagi dedeku untuk mendapat celah lubang dan menerobos masuk, dan sepertinya kesempatan itu tidak disia-siakan oleh dedeku, seakan atas inisiatip sendiri, pantatku membantunya, mendorong kedepan, sehingga amblaslah dedeku masuk kedalam lubang vaginanya dengan cepat.

Dan Tante Marissa seakan terkaget oleh aksi dari Dedeku, terhenyak sebentar, seakan menahan pekikan agar tak keluar dari mulutnya, namun sesaat kemudian sepertinya ia menerima penetrasi dari dedeku, bergumam lirih, seperti mengucapkan “hmmmm”, dan kemudian ia malah menggoyang-goyangkan pantatnya seakan menyuruhnya untuk maju mundur !. Dan sepertinya aku juga tidak tinggal diam, kuikuti irama dari pantatnya, namun aku membuatnya berlawanan arah, hingga apabila dia maju, aku ikut maju, dia mundur aku ikut mundur, dan itu jelas mengakibatkan gesekan yang luar biasa, karena membuat dedeku menjadi seperti keluar masuk vaginanya !.

• BERSAMBUNG• 

Tunggu kelanjutan cerita seksnya hanya di Cerita69 UPDATE SETIAP HARI. Baca juga Cerita Nakal lainnya hanya di Cerita69Kumpulan Cerita Dewasa & 2019.

About Sandra Lim 72 Articles
Sandra Lim merupakan admin dari situs Cerita69 yang Mengangkat Cerita-cerita dewasa yang tentu saja bisa membangkitkan nafsu birahi seseorang ini menjadi topik utama saya sebagai Admin dari Cerita69.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*